0

Eddie Van Halen Ternyata Orang Rangkasbitung

Ternyata tidak hanya pesepakbola ternama asal Belanda yang banyak keturunan Indonesia, musisi pun demikian. Setelah The Tielman Brothers, kini dua bersaudara asal band Van Halen yang mengungkapkan fakta serupa. Selama ini kaitan antara Alex (drum) dan Eddie (gitar) dengan Indonesia, memang sudah lama berlangsung. Dalam buku biografi Van Halen serta halaman Wikipedia kedua personil tersebut juga dijelaskan darimana keterkaitan keduanya dengan negara ini. Yup, keduanya ternyata dilahirkan dari rahim seorang wanita berdarah Indonesia bernama Eugenia van Beers. Jika selama ini pengakuan itu hanya berupa teks, kini keduanya mengungkapkan tersebut secara verbal melalui sebuah wawancara yang dilakukan oleh vokalis mereka sendiri, David Lee Roth yang diunduh ke situs resmi van-halen.com beberapa hari lalu (8/2/2012). Wawancara tersebut mungkin akan terasa biasa saja bagi penggemar di Indonesia jika Eddie dan sang kakak Alex tidak menyinggung soal asal-usul ibu mereka yang berasal dari Indonesia.
Dalam wawancara yang berjalan santai tersebut, Eddie yang juga dikenal sebagai seorang ‘dewa gitar’ ini mengatakan bahwa ibu mereka lahir di Rangkasbitung, sebuah wilayah di Banten. Keduanya juga mengaku hanya mengerti beberapa kata saja dalam bahasa Indonesia. Eugenia van Beers sendiri telah meninggal dunia pada tahun 2005 silam, dalam usia 89 tahun.

0

Pengukuhan Khalifah Empang

Pengukuhan khalifah baru ini bertepatan dengan tahlilan 40 hari wafatnya Al Habib Abdullah bin Zein Bin Abdullah Bin Mukhsin Al-’Attas khalifah Masjid Keramat Empang sebelumnya, yang telah wafat pada tanggal 22 Maret 2011 lalu. Al Habib Abdullah Bin Husein Bin Abdullah Bin Mukhsin Al ‘Attas resmi dikukuhkan menjadi khalifah Masjid Keramat An Nur Empang,Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Pengukuhan khalifah Masjid Keramat An Nur Empang Bogor dilakukan oleh Al Habib Zen Bin Ibrahim Bin Smit seorang ulama besar dari Madinah Arab Saudi, Kamis (5/11/2011) siang Al Habib Abdullah Bin Husein Bin Abdullah Bin Mukhsin Al ‘Attas merupakan Khalifah ke delapan dari khalifah pertama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al ‘Attas. “Ana dipilih menjadi khalifah kedelapan Masjid Keramat Empang, “ kata Habib Abdullah Bin Husein yang ditemui usai acara pengukuhan khalifah. Menurut dia, pemilihan khalifah sudah menjadi tradisi di Masjid Keramat An Nur Empang, untuk meneruskan perjuangan khalifah-khalifah sebelumnya sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW. Pengukuhan khalifah Masjid Keramat An Nur Empang dihadiri ratusan jamaah yang tidak hanya dari Bogor juga yang datang berbagai daerah. Acara diawali dengan pembacaan zikir, tahlil serta sholawat Nabi. Untuk menghormati tamu undang hadir sudah menjadi tradisi disajikan makanan nasi kebuli yakni nasi dicampur dengan daging kambing

0

Menghadapi Hari Kematian Internet

Sekarang ini, semua sudah terhubung dengan internet. Di banyak hal memang benar-benar membantu kita di kehidupan, terutama cara berkomunikasi dan berinteraksi. Tidak hanya berinteraksi dengan sesama manusia, tapi juga berinteraksi dengan non-human, mesin, atau sebuah sistem. Hampir semua orang yang saya kenal sekarang mempunyai sebuah identity di dunia maya, entah web page, blog maupun social networking profile. Bahkan juga saya banyak kenal orang dari internet, tahu kegiatan orang-orang tersebut dari hasil sharingnya di dunia maya. Batas-batas privasi telah diperlebar dan definisinya diubah. Masing-masing mempunyai pemahamannya sendiri yang mungkin bagus ataupun malah merugikan. Kita jadi berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu yang lebih singkat dan paralel. Informasi masuk ke diri kita dengan sangat cepat dan dalam pecahan yang kecil-kecil. Otak kita jadi terlatih untuk menerima arus informasi dalam jumlah banyak secara bersamaan. Contoh nyatanya adalah Twitter. Seperti inilah komunikasi jaman sekarang. Kita harus pintar-pintar memilih pecahan informasi kecil mana yang penting untuk disimpan dalam memori kita. Atau hal-hal apa yang sebenarnya tidak ada kepentingannya dengan kita tapi menguras energi dan waktu kita. Kenyataan yang Maya Apakah kamu familiar dengan skenario ini? Bangun tidur ngecek timeline Twitter. Sambil nunggu sarapan beres, check email. Terus ngeliat foto-foto weekend unggahan temen kamu. Lalu twitteran lagi sambil sarapan. Lalu begitu sampai di kantor langsung check-in Foursquare supaya title mayor enggak keambil oleh orang lain. Dan begitu seterusnya, orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menatap smartphone-nya dibanding dengan bertatap dengan orang lain secara langsung. Ya memang dalam pekerjaan sehari-hari kita bertemu dengan real-people dan juga menghadapi real-problem. Tapi terkadang dunia maya di gadget kecil kita itu lebih menarik dari pada dunia nyata yang kita hadapi secara langsung. Alhasil orang lebih banyak lari ke dunia kecil yang indah untuk mengekspresikan atau bahkan menjadi seseorang yang tidak mungkin dia lakukan di dunia nyata. Karena kesehariannya sudah berjalan rutin seperti itu lama-kelamaan orang menjadi terbiasa dan nyaman. Atau mungkin kata yang lebih tepatnya: ketergantungan. Hari Kematian Internet Tiba Apa yang harus kita persiapkan pada saat hari kematian Internet tiba? Setelah selama beberapa tahun belakangan ini kehidupan kita dimanjakan oleh kecanggihan dan kemudahan oleh teknologi, apa saja yang telah direnggut oleh internet dari kehidupan kita? Hal nyata apa yang telah hilang dan digantikan oleh kode-kode digital? Secara tidak sadar dan pelan orang telah mengganti cara hidupnya selama 10 tahun belakangan ini. Contoh paling simplenya adalah menulis. Berapa banyak dari kita orang dewasa yang sudah merasa kaku untuk menulis tangan karena selama ini tidak pernah menulis di atas kertas lagi. Surat menyurat melalui email, berhitung menggunakan kalkulator, berbicara menggunakan instant messenger service, dsbnya. Peran mulut untuk berbicara telah tergantikan oleh 10 jari yang menari di atas keyboard, dan banyak hal lainnya. Apa yang bisa dilakukan untuk kembali hidup seperti masa lalu lagi secara analog? No Google! Ini adalah sila pertama dalam peraturan dasar hidup analog. Tidak menggunakan layanan Google sama sekali, mulai dari search engine, email, map, earth, picture, dan semuanya yang Google sediakan. Untuk mencari tau mengenai suatu hal kita gak bisa menggunakan search engine. Kamu harus mulai mencoba mencari suatu hal dengan usaha kamu sendiri, dan dengan bertanya ke manusia lain secara real. Yang ditantang disini adalah kemampuan kamu dalam bersosialisasi dengan orang baru secara nyata untuk mendapatkan informasi. Bisa juga dengan mendatangi perpustakaan dan mencari pecahan informasi dalam deretan buku-buku yang ada disana. Kalau selama ini kita terbiasa tinggal memasukan nama tempat atau jalan untuk melihat peta, maka pada hari kematian internet kita harus kembali menggunakan peta biasa. Harus bisa mencari lokasi peta dan menelusuri jalan yang tersebar pada ratusan lembar halaman. Langganan surat kabar. Karena sudah tidak bisa browsing internet lagi maka kamu harus langganan surat kabar supaya enggak ketinggalan berita sehari-hari. Yang penting adalah langganan koran pagi dan sore, karena untuk koran pagi kamu bisa baca apa yang terjadi kemarin sore hingga malem, dan koran sore untuk yang terjadi dari pagi hingga siang. Yah semua beritanya sih telat 1 hari, setidaknya kamu sudah bisa ikut dalam pembicaraan sehari-hari. Efeknya adalah waktu akan terasa lebih lambat dan lebih panjang karena informasi yang kita dapat tidak terlalu deras. Keluar dari semua social networking platform. Hapus semua account Twitter, Facebook, MySpace, FourSquare, Koprol, dan lainnya. Mulai coba hidup dengan tenang tanpa tahu teman kamu hari ini ngeluh apa dalam perjalanan pulang kantor yang macet. Kamu juga enggak perlu tahu teman kamu sarapan apa pada pagi harinya, dan informasi-informasi lain yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Kamu pasti akan lebih fokus dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari yang utama tanpa distraction tersebut. Untuk menghubungi seseorang akan butuh usaha lebih dari sekedar PING!! dan mention. Manusia akan kembali berbicara menggunakan mulut dan suaranya, tidak lagi dengan text dan jarinya. Kalau udah berpergian rasanya seperti lepas dari manapun. Perjalanan dari rumah menuju tempat nongkrong rasanya kaya jalan sendirian di terowongan sunyi yang dindingnya rapat semua. Baru bisa dihubungi apabila sudah stay di sebuah tempat. Mau kabur sejenak untuk mewujudkan me time rasanya gampang banget. Sign out dari e-mail. Bikin PO Box atau alamat rumah saja untuk urusan surat menyurat. Dan supaya gak numpuk sampah, bikin satu lagi PO Box khusus brosur-brosur iklan atau promosi yang gak penting untuk supaya langsung dibuang ke sampah. Prinsipnya semacam bikin account/folder khusus spam di email kamu supaya langsung di trash. Siapkan folder untuk menyimpan kertas-kertas dan dokumen yang dikirim ke rumah kamu. Album foto. Buat kita yang hobi foto mungkin upload ke Facebook adalah hal yang paling mudah dan nyaman. Semua foto bisa kita upload sebanyak apapun tanpa mengeluarkan biaya lagi. Apabila internet sudah mati, maka untuk masalah foto ini akan kembali menjadi hal yang mahal dan butuh banyak biaya, untuk cetak dan untuk menyimpannya dengan baik di dalam album foto. Foto akan menjadi barang yang value-nya lebih spesial dan pribadi karena tidak akan mudah lagi untuk diperbanyak seperti halnya foto digital. No copy-paste ucapan. Persetan dengan sms-sms copy paste yang membuat handphone kamu lemot pada hari raya. Kartu-kartu ucapan yang sifatnya pribadi dan intim dengan tulisan tangan yang sangat personal. Membuat kamu merasa lebih dihargai dan hari raya menjadi lebih berarti. Well, kalau dilihat-lihat, sebenarnya hari kematian internet bukan berarti kiamat. Kita mungkin akan merasa kesusahan karena internet sudah membuat kita mudah dalam banyak hal, tapi di lain sisi juga, nilai-nilai kehidupan akan menjadi lebih nyata dan lebih mendalam bagi banyak orang. Semoga kita semua sudah siap apabila hari itu datang... Bahan : Diposting Oleh Christian Sugiono, Jumat, 07 Januari 2011 16.55 WIB

0

Sekelumit Tentang Koi

Sekelumit pengalaman saat menikmati kemolekan ikan koi. Saat itu menjelang akhir bulan februari 1993 menyusuri kali kecil disepanjang jalan di sebuah daerah di Saijyo, Honsyu Jepang. Air begitu jernih, udara masih cukup dingin karena baru saja musim salju berlalu, temaram dengan berseminya bunga sakura.. di kali kecil yang jernih itu dijumpai ikan-ikan koi Menyaksikan keindahan ikan koi adalah suatu pengalaman yang penuh sensasi. Ikan yang kabarnya berasal dari negeri tirai bambu China ini berhasil dikembangkan di negeri sakura Jepang. Ikan ini memiliki keunikan tersendiri. Bentuknya yang indah diselimuti taburan warna-warni cerah di punggungya serta gerakan berenang yang elegan. Beberapa keterangan menyebutkan ikan ini dapat berumur panjang hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Di Jepang pernah dilaporkan ada ikan koi yang mencapai umur lebih dari 200 tahun dan panjang lebih dari 100cm!. Di Jepang ikan ini dikenal dengan istilah nishikigoi, nishiki-goi. Nishiki berarti karper atau mutiara, goi atau di-spell koi, berarti ikan. Nishikigoi artinya ikan karper / mutiara. Orang Indonesia menyebutnya ikan koi, artinya ikan ‘ikan’, loh ko artinya malah kabur ? Para ahli bahasa silahkan berdebat..:) Ikan mutiara, begitulah.. sehingga ikan ini sering disebut mutiara hidup, living jewlery. Ikan yang begitu berharga dimata pecintanya atau pemiliknya. Bahkan dipercaya ciptaan yang agung ini sering dianggap pembawa kebaikan dan kemakmuran kepada pemiliknya. Ikan koi. Ikan penuh warna. Ikan ini memiliki keunikan warna dan variasi warna yang begitu banyak dan beragam. Begitu banyaknya warna dan komposisi warna yang dimiliki ikan koi ini, orang Jepang mengelompokkannya kedalam beberapa jenis atau tipe berdasarkan warna. Selain warna, ikan ini juga memiliki variasi sisik atau kulit yang berbeda. Dalam istilah latin ikan ini disebut sebagai cyprinus carpio, ikan ini termasuk golongan omnivora, pemakan segala, tumbuhan atau lainnya.
Perlu rasanya diketahui bagaimana ikan-ikan tersebut mengalami variasi warna yang begitu banyak. Ada yang menyebut dapat dikelompokan dalam 80-an warna. Namun secara umum para hobiis atau ‘komunitas’ menyepakati hanya beberapa warna utama saja yang paling menarik perhatian yang dapat dianggap memiliki ‘standar keindahan’ seekor ikan koi. Awalnya ikan koi, atau disingkat saja koi, adalah ikan konsumsi, sejenis ikan mas. Bahkan ada yang menyebut ikan koi ya ikan mas, tapi bukan gold fish sebagaimana ikan yang dikenal di masyarakat Barat. Ikan ini umum dimakan, hidup di sungai atau di kolam-kolam air tanah, air tawar di daerah tropis dan sub-tropis (dengan treatment tertentu). Dalam perkembangannya ikan-ikan ini mengalami mutasi, atau perubahan warna. Ternyata perubahan warna ini menimbulkan keindahan tersendiri pada ikan-ikan tersebut dibanding dengan ikan indukannya. Melihat kenyataan ini para petani ikan mas saat itu di Jepang, sekitar 200-an tahun yang lalu, memisahkan dan memeliharanya secara terpisah dari ikan mas konsumsi yang notabene adalah induknya sendiri. Diduga warna mutasi pada awal-awal perkembangannya hanya memiliki 3 warna yaitu hitam, merah dan putih sebagai warna dasar tubuh. Selanjutnya pada perkembangan kemudian, para petani koi ini mencoba untuk mengawin-silangkan diantara beberapa ikan mutasi ini dengan ikan mas atau dengan ikan mutasi warna lainnya. Dapat diduga dari induk yang memiliki warna yang tidak sama akan lahir anakan yang merupakan kombinasi dari indukannya, atau dalam ilmu biologi dikenal dengan hukum Mandell, Gregory Mandell. Dibalik keuntungan atau keindahan warna yang dihasilkan oleh karena mutasi atau dari rekayasa perkawinan diantara ikan-ikan mutasi ini ternyata ada kelemahan yang ikut menyertainya. Ikan-ikan hasil mutasi ini tidak memiliki ketahanan sebagaimana induknya. Ketahanan dalam arti kemampuan menyesuaikan diri dengan alam lingkungan tempat hidupnya, yaitu air tawar. Ikan mutasi ini menjadi begitu rawan dan mudah terkena penyakit. Tidak jarang ikan-ikan ini mengalami kematian muda sebelum dewasa. Hal ini tidak dialami oleh induk aslinya yang tidak mengalami mutasi. Barangkali disinilah letak kebijaksanaan alam yang memiliki aturannya sendiri diluar kemampuan manusia. Begitu antusias-nya para pecinta ikan koi ini sehingga ikan ini sering dilombakan atau dikonteskan. Dicari, dinilai, ditentukan, mana ikan yang paling indah, paling sehat dan tentu saja menjadikan ikan-ikan ini lebih mahal harganya. Pernah tersiar, ikan yang berhasil juara dalam suatu kontes dengan juri yang berpengalaman melambungkan harga ikan ini mencapai harga puluhan juta rupiah 1 ekornya atau bahkan mungkin lebih. Lantas bagaimana, apakah ikan ini bisa dipelihara secara umum di rumah-rumah atau diternak di kolam-kolam ? Jawabannya tentu bisa. Ikan ini dinikmati keindahannya karena warna dipunggunya, sehingga tidak umum dipelihara di dalam aquarium. Kecuali barangkali karena suatu hal, seperti karena perawatan dan sebagainya sehingga ditempatkan di aquarium atau wadah lainnya. Dari pengalaman, sebagimana disebut di atas, bahwa ikan ini memiliki ketahanan yang lemah, seringkali ikan ini mengalami kematian tanpa diketahui sebabnya. Tidak ada luka, tidak ada kerusakan fisik atau keanehan lainnya. Tiba-tiba ikan mati begitu saja. Padahal harganya lumayan mahal. Suatu hari tahun 1998 berkesempatan ke suatu daerah di Jawa Barat di Sukabumi. Saat perjalan pulang dipinggir jalan tertulis ‘Jual Ikan Koi’. Penasaran dan teringat waktu di kali kecil di negeri orang, maka disempatlkan untuk mampir sekedar lihat-lihat. Tidak faham dan tidak mengerti tentang seluk-beluk ikan yang satu ini, apalagi tentang jenis dan warnanya. Karena suka, dan kelihatan indah, dibelilah 20 ekor ukuran 8cm, dan 4 ekor ukuran 20cm. Harganya lupa. Sepanjang jalan rasanya senang apalagi di rumah junior boy umur 3 tahun pasti akan suka diberi kejutan ‘mainan hidup’, masih bukan ‘mutiara hidup’..
Tibalah di rumah jam 21.00 WIB. 20 ekor langsung masuk kolam, 4 ekor masuk ember besar. Sang junior sudah tidur, belum bisa lihat. 22.00 WIB,.. tik-tik-tik 23.00 WIB,.. tik-tik-tik 4 ekor ikan masih dilihat, ditatap.. ko bagus ya warnanya. Karena capek habis nyetir, ngantuk dan tidur tepatnya 24.00 WIB atau pukul 00.00 WIB. 05.00 WIB sebelum mandi langsung lihat ember besar.. ternyata masih ada 4 ekor ikan koi warna-warni, tapi kondisinya tidur. Tidur miring semua, kayak kecapek-an, mata masih sepet dan remang-remang. Diperhatiin ko ikan-ikan itu diam saja gak ada yang bergerak.. dilihat lagi, tetap gak bergerak, hanya kadang-kadang melayang kanan-kiri, kanan-kiri pelan-pelan.. EH! Ternyata tuh ikan bukannya lagi tidur miring kecapek-an, mereka MATI! Mata gak sepet lagi, terus jadi kaget! berarti tuh ikan umurnya cuma 8 jam di rumah, padahal katanya 200 tahun. Duh.. ikan ko beginii.., apa karena gak dikasih makan atau apa ?.. 20 ekor lainnya mati satu-satu keesokan harinya.. 10 Tahun berlalu tanpa jawaban.. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan pembantaian sia-sia 4 ekor ikan indah itu..mistery! November 2008,.. 10 tahun telah berlalu semenjak tragedi 4 ekor ikan koi. Lihat-lihat internet mapir toko ikan di kawasan Sahari, Senen Jakarta.. eh ketemu lagi sama kawan 4 ekor ikan koi warna-warni, merah, hitam, putih itu. Lihat-lihat, pilih-pilih, tanya-tanya sama sang penjual diputuskan beli 10 ekor ukuran 15cm. Katanya semuanya bagus. Kata penjual. Langsung dibungkus, diplastik dan ditambahin oksigen sama sang penjual. Masuk mobil. Ada yang merah campur hitam, merah totol hitam, putih totol hitam, ada putih campur merah.. gak tahu kombinasi apa saja, yang jelas warna-warni. 14.00 WIB sampai rumah, ikan-ikan masuk kolam semua. Dilihat lagi, ditatap lagi.. bla.. bla..bla.. Sampai akhirnya tidur. Ikan terakhir ditinggal dalam keadaan segar bugar dan lincah.. 06.00 WIB keluar rumah menuju kolam.. kejadian 10 tahun lalu terulang! Ikan pada tidur miring alias MATI! 2 ngambang, 3 mati tenggelam (ko ikan bisa mati tenggelam ya?..), 3 ekor semaput melayang-layang alias mabuk. Sisanya 2 ekor terkapar di lantai dalam keadaan kaku! Duh.. Tapi ternyata sekarang ikan ini bertambah umur dibanding yang tahun 1998, kali ini umurnya 16 jam.. 2x lipat umur ikan waktu 10 tahun lalu. Tapi tetap gak sampai 200 tahun seperti kata buku, lagian 200 tahun sang pemilik ???. Penasaran dan akhirnya mencari tahu, tanya sana-sini sama penjual, penjual yang benar, surfing internet. Intinya Stop beli!!. Kira-kira sudah agak faham. 2 Minggu kemudian beli, kali ini di Kemang Bekasi, 4 ekor ukuran 12cm harga 4x lipat harga Senen Jakarta. 3 Minggu berlalu, ikan tersisa 3 ekor, 1-nya ‘rip’ dalam keadaan sangat belia, umur 21 hari, lumayan.. Itu sekelumit pengalaman. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi anda yang berminat memulai hobby menarik sekaligus menjanjikan ini: Beli di tempat yang bersih yang sudah dikarantina, bukan ikan yang baru diangkat dari kolam, kecuali memang bbeli di petani langsung, sebisa mungkin beli dari pedagang yang bisa dipercaya. Pilih ikan yang sehat, tidah ada luka dan normal, dan tentu saja memiliki keindahan yang baik. Siapkan karantina, lengkap dengan filter, aerator, dan kalau perlu heater serta obat anti stress. Biarkan 15 sampai 30 menit ikan dalam kondisi masih diplastik rapat, disimpan di atas air dalam kolam karantina sebelum ikan dan airnya dimasukin. Periksa apakah ada kutu yang terbawa dari tempat asal yang menempel di tubuh ikan ? Kalau ada cabutin dengan pinset secara hati-hati. Biasanya terdapat di pangkal sirip atau di ujung ekor. Ikan di karantina puasa 1-2 hari. Jaga kondisi air, filter di karantina. 1 hari sebelum koi dari karantina masuk kolam, koi di dalam kolam puasa. Masukan ikan baru dari karantina ke kolam utama bergabung dengan koi yang lama, yang sudah menanti dalam keadaan lapar. Seluruh koi penghuni kolam, yang baru dan yang lama, p-u-a-s-a.. Hari ke-3 saatnya buka puasa bersama, kasih pakan pelet secukupnya. Pelihara filter dan aerator kolam dengan baik. Kalau perlu backup power listrik dengan battery + inverter, agar pompa filter dan aerator terus hidup 24/7, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Setahun 365 hari hi.. hi.. Bersihkan secara berkala. Ganti 1/10 bagian air kolam dengan air baru yang sudah diendapkan min semalam, secara berkala. 29-Jan-2010, 02.16 WIB sekarang sudah berumur 1 tahun lebih, dan ikan-ikan itu masih hidup. Enjoy your Living Jewlery! Mudah-mudahan berikutnya bisa lebih jauh tentang si ‘Living Jewlery’ ini. Sekian NOTE: Bahan dari berbagai sumber dan pengalaman sendiri.

0

Rapat Virtual dan Cara Kerja Modern

"Sarana teknologi ini ('video-conferencing' dan rapat 'online') akan mengubah cara berpikir perusahaan terhadap perjalanan dan kerja dalam jangka panjang." Claire Schooley, analis pada Forrester Research, NYT, 22/7). 
Semula, ada kemacetan yang semakin tidak tertahankan di kota-kota besar. Situasi ini lalu melahirkan ide agar karyawan tak selalu harus ke kantor. Manajemen perusahaan dihadapkan pada dilema, mendapatkan karyawan produktif dengan mengorbankan kehadiran di kantor, atau tetap mengharuskan karyawan hadir di kantor dengan kehilangan sebagian (mungkin juga sebagian besar) waktu dan produktivitasnya. 
Ketika kemacetan total di kota besar, seperti Jakarta, diperkirakan datang lebih awal—bukan lagi tahun 2014, melainkan tahun 2011, atau 2012, bayangan akan "hidup tua di jalanan" semakin melahirkan rasa tak nyaman, khususnya bagi karyawan yang tiap hari harus ke kantor. 

Namun, pada sisi lain, konsep tidak harus di kantor—lepas dari sifat pekerjaan seorang karyawan kreatif atau tidak—masih menjadi bahan perdebatan di kalangan manajemen. Tampaknya, alam pikir tradisional masih mendominasi dalam wacana ini. Namun, waktu mungkin akan mengubah persepsi tersebut. 

Harus diakui bahwa momentum bagi pendekatan baru dalam cara orang bekerja ini bertambah lagi dengan munculnya perkembangan baru, yakni makin mahalnya harga bahan bakar dan—sebelumnya—diperolehnya teknologi yang memungkinkan orang bekerja dari jauh (luar kantor). Bahkan, makin luasnya penggunaan internet membuat orang bisa bekerja dari titik mana pun di dunia. Itu sebabnya istilah www yang semula hanya berarti world wide web kini juga berarti world wide workplace, atau "tempat kerja di mana pun di dunia". 

Rapat virtual 

Di harian The New York Times, Selasa (22/7), Steve Lohr menulis feature tentang makin banyaknya perusahaan mengadakan rapat virtual karena biaya perjalanan semakin mahal. 

Peserta rapat semacam itu, seperti dituturkan oleh karyawan Accenture Jill Smart, semula merasa ragu, tapi setelah hadir di ruangan yang dilengkapi dengan fasilitas konferensi video—atau juga dinamai telepresence—dan merasakan sendiri suasana demikian nyata, ia dalam tempo 10 menit lupa bahwa ia tidak bersama-sama dengan mitra konferensi dalam ruangan itu. Maklum saja, Nona Smart ada di Chicago dan mitra konferensinya ada di London. 

Accenture kini telah memasang 13 ruang konferensi video di kantor-kantornya di seluruh dunia dan berencana menambah 22 ruang lagi sebelum akhir tahun ini. 
Cara rapat virtual ditempuh guna menghindari 240 perjalanan internasional dan 120 perjalanan domestik yang harus dilakukan oleh stafnya dalam bulan Mei saja. Langkah itu diyakini dalam setahun bisa menghasilkan penghematan jutaan dollar. Tetapi yang juga diperoleh adalah staf terbebas dari kehilangan jam kerja produktif, yang memang akan hilang kalau mereka harus menempuh perjalanan jauh yang melelahkan.
Jadi, dengan semakin meningkatnya biaya perjalanan dan hal itu juga membuat maskapai penerbangan mengurangi layanan, perusahaan—besar dan kecil—mengkaji kembali rapat tatap muka (face-to-face meeting), juga perjalanan bisnis. 
Tentu saja langkah ini harus ditopang oleh pendukung yang tidak lain adalah teknologi yang kini sudah mencapai titik di mana ia praktis (atau tidak sulit digunakan), harganya terjangkau, dan lebih produktif guna memindahkan bit-bit digital daripada badan. 
Diperkirakan, arah baru ini lebih dari sekadar reaksi atas meningkatnya biaya perjalanan dan pelemahan ekonomi. 

Pada masa lalu juga sudah ada ramalan bahwa teknologi bisa menggantikan perjalanan. Namun, dulu hal itu dinilai prematur. Kini, teknologi disebut telah bisa membuktikan janjinya. Adanya investasi besar pada jaringan telekomunikasi, perangkat lunak, dan peningkatan pengolahan komputer mendukung munculnya kemajuan yang ada. 

Kini, pilihan yang ada sudah banyak, mulai dari sistem telepresence yang mahal seperti dibuat oleh Cisco dan HP hingga teknologi kolaborasi yang dikenal sebagai web conferencing, online document sharing, wikis, dan teleponi internet. 
Tidak heran kalau kemajuan teknologi ini semakin luas dimanfaatkan oleh perusahaan besar dan kecil. Rapat via internet kini semakin banyak digunakan untuk pelatihan dan presentasi penjualan. Dengan penggunaan cara kerja baru ini, perusahaan ada yang bisa menghemat sampai 60 persen, dan waktu rata-rata untuk menuntaskan penjualan baru dipangkas sampai 30 persen. 
Perkembangan ini memang menyisakan pertanyaan, apakah dengan tren baru ini lalu rapat tatap muka akan ketinggalan zaman? Atau apakah sudah tidak akan ada lagi karyawan yang bekerja dengan menyusuri jalan raya? Ternyata, yang ditekankan di sini adalah bahwa perkembangan situasi dan kemajuan teknologi digital hanya sebagai cara untuk membuat perjalanan kerja lebih selektif dan lebih produktif. 

Perubahan nyata 

Tren perubahan cara kerja yang ditopang oleh kemajuan teknologi ini memang kini dirasakan oleh karyawan di pelbagai perusahaan. Misalnya saja, Michael Littlejohn dari IBM. Dua tahun lalu ia menghabiskan waktu 13 sampai 15 hari dalam sebulan di jalan. Kini, ia hanya perlu 8 sampai 10 hari dalam sebulan untuk perjalanan dinas. Namun, tidak berarti waktu untuk melayani klien berkurang. Untuk memahami masalah klien, atau untuk menuntaskan penjualan, ia masih merasa harus bertatap muka. 

Lebih efektifnya cara kerja baru ini juga dituturkan oleh Darryl Draper dari Bagian Pelatihan Pelanggan di Subaru of America. Dulu, dalam enam bulan ia hanya bisa menjangkau sekitar 220 orang dengan biaya 300 dollar AS per orang. Kini, setelah semua dilakukan melalui internet, selain ia tidak sering bepergian, ia justru bisa menjangkau 2.500 orang setiap enam bulan dan hanya dengan biaya 75 sen dollar AS per orang. 

Tentu, setiap pemanfaatan teknologi ada biaya investasi. Tetapi, dibandingkan dengan biaya operasi yang tidak menentu mengikuti naik-turun harga minyak, investasi di bidang ini lebih bisa dipastikan. 

Sekali lagi, videoconferencing maupun rapat online bukan substitusi sempurna bagi datang ke kantor dan rapat tatap muka, di mana orang bicara satu dengan yang lain. Dengan telepresence orang tidak belajar mengenai budaya lain. Nona Smart menegaskan, "Anda mendapatkan banyak hal dengan berada di sana, saat sarapan atau santap malam, membangun hubungan (dengan) bertatap muka." 

Sekali lagi, cara kerja modern bukan untuk menggantikan seluruhnya rapat atau bertemu langsung. Ini hanya cara bijaksana mengeluarkan biaya pada masa apa-apa serba mahal. 

Sumber: Kompas.com

0

Tukang Becak Penyumbang Yatim Piatu - Nice True Story

 Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.
http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs903.snc4/71604_1413459742469_1411808281_30948596_8037652_a.jpg
Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs399.ash2/67743_1413460462487_1411808281_30948597_6383415_a.jpg
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.
Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh.
Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.
Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk.
Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.
http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs797.snc4/67793_1413461582515_1411808281_30948598_3922866_a.jpg
Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.
http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs794.snc4/67468_1413462382535_1411808281_30948600_758977_a.jpg
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.
Bagaimana dengan aku ?

--
Best regards,



0

Shalat Khusyu: Shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam

UNTUK DOWNLOAD E-BOOKnya klik : SHALAT KHUSYU Itu MUDAH

Ada satu hal keunikan dari buku karya Abu Sangkan yaitu diadakan juga pelatihan shalat Khusyu, baik yang sifatnya gratis maupun pelatihan bernilai jutaan karena diselenggarakan di hotel untuk membidik segmen pasar tertentu. Sebenarnya bukan masalah buku shalat Khusyu yang terjual sangat laris ini disebabkan isinya sangat bagus, sebab banyak juga buku-buku keagamaan maupun umum yang juga sangat bagus dan terjual sangat laris. Yang menarik adalah diadakannya pelatihan, terutama pelatihan shalat Khusyu dengan biaya sangat mahal yaitu diatas satu juta rupiah, walaupun juga ada yang sifatnya gratis. Mengapa ini menarik, sebab selama ini kita sudah banyak mengikuti kursus marketing, ISO, sumber daya manusia, manajemen stratejik, keuangan, ekspor-impor dan beberapa kursus lainnya yang juga mahal dan tidak ada yang mengkritik tentang masalah biaya, tapi ketika ada kursus shalat Khusyu, banyak komentar negatif maupun positif. Kalau kita lihat bahwa orang yang shalatnya sangat baik disamping mempengaruhi kesehatan, seperti yang di teliti oleh Prof DR. H. Muhammad Shaleh ketika meraih gelar doktornya, juga ada hal yang luar biasa yaitu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Kisah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw dengan membawa oleh-oleh perintah shalat, bisa menyadarkan kita bahwa selama ini banyak diantara kita sudah mendalami dan kursus aneka keilmuan, namun belum sungguh-sungguh mengikuti kajian dan praktek yang dapat meningkatkan shalat Khusyu kita. Makalah ini membahas kandungan buku Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam, karya Abu Sangkan. Sebenarnya bukan kapasitas saya untuk membahas materi yang menurut saya sangat berat ini, mengingat keterbatasan ilmu dan wawasan yang saya miliki. Sedangkan masalah sholat yang khusyu’ lebih merupakan pengalaman ruhani dari setiap individu. Bisa jadi baru sebagian kecil materi yang dapat saya sarikan dari buku yang menjadi best seller tersebut. Oleh karena ini dengan segala kerendahan hati, mohon saya dibukakan pintu maaf atas segala kekurangan dalam penyampaiannya, tidak lupa mohon koreksi bila ada kesalahan kalimat maupun pengutipan ayat Quran dan hadits. Shalat khusyu’ itu mudah dan sangat nikmat Satu prinsip utama dalam kiat buku itu adalah, jangan ‘mencari’ khusyu’, cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita ciptakan tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya. Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh. Lalu mulai bertakbir, Allahu Akbar, dan selanjutnya membaca dengan pelan-pelan, meresapi kesendirian dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun kita tumpul untuk merasakannya. Kita sedang menemuiNya sekarang. Kita, ruh kita tepatnya. Badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar ruh ini berjumpa kembali dengan yang dicintainya, ialah Allah yang meniupkan ruh ini dahulu ke dalam badan fisik. Pernahkah kita sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya? Jawabannya bisa jadi pernah, dan apa yang kita rasakan? Mungkin saja kita kesal. Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’, mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal, dan seterusnya. Kita kesal karena irama kecepatan sholat dengan imam berbeda. Ternyata demikian halnya dengan sholat kita sendiri. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat -kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita ini sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’, jadilah ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga ruh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingg ruh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud. Berikan kesempatan ruh kita -sebut saja “aku” yang sejati- untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita. Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung. Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu. Shalat, Titik Awal Menuju Kebangkitan Shalat tak sekadar hubungan pribadi antara manusia dan Allah. Shalat mengandung dimensi yang sangat luas. Shalat yang khusyuk tak hanya mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dapat menjadi daya dorong untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tertib, saling menolong, senang bekerja keras, dan saling mengingatkan di dalam kebaikan. Sedikit Pemikiran Tentang Khusyu’ Khusyu’ dalam shalat adalah impian setiap Muslim. Keadaan semacam ini telah banyak diceritakan dalam kisah-kisah inspiratif dari masa lampau yang mengundang decak kagum. Sebutlah misalnya tentang seorang sahabat Rasulullah saw. yang tubuhnya tertembus panah, kemudian ia minta agar panah tersebut dicabut ketika ia sedang shalat saja. Ketika anak panah itu dicabut, ia seolah tidak merasakan sakit sama sekali lantaran khusyu’ dalam shalatnya. Gerangan kondisi semacam apakah khusyu’ itu sebenarnya? Apakah khusyu’ itu berarti tidak memikirkan apa pun selain shalat? Apakah kita seharusnya tidak mempedulikan hal-hal duniawi ketika shalat? Anggapan bahwa orang yang shalat dengan khusyu’ hanya memfokuskan pikirannya pada satu kegiatan (yaitu shalat) agaknya malah terbantahkan dengan berbagai teladan yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan pernah melakukan shalat sambil mengasuh anaknya. Ketika berdiri, anak itu digendongnya, dan ketika ruku’ atau sujud, anak itu pun diturunkannya. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa beliau telah membagi pikirannya ketika shalat. Di lain pihak, kita tidak mungkin menuduh Rasulullah saw. telah melaksanakan shalat dengan tidak khusyu’. Kalau beliau saja tidak khusyu’, lalu siapa yang bisa melakukannya? Di lain kesempatan, Rasulullah saw. juga pernah mempersingkat shalat berjamaah yang dipimpinnya karena mendengar tangisan seorang anak. Beliau mempersingkat shalat karena sadar bahwa sang ibu pastilah merasa khawatir karena mendengar tangisan anaknya. Artinya, beliau sempat berpikir dan membuat keputusan penting ketika sedang melakukan shalat. Sekali lagi, Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam hal shalat khusyu’. Hal ini tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Jadi, bagaimanakah khusyu’ itu sebenarnya? Memusatkan pikiran kepada satu hal dalam shalat agaknya tidaklah dimungkinkan. Shalat itu sendiri terdiri dari berbagai gerakan dan bacaan. Kita harus mengendalikan ucapan kita, membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur’an menurut aturan tertentu, dan hal itu pasti menuntut pembagian konsentrasi. Demikian pula pengaturan gerakan pastilah memerlukan kesadaran yang cukup. Jika kita melepaskan kesadaran dalam segala hal, maka barangkali shalat kita akan tampak seperti tari-tarian orang yang menelan ekstasi atau orang yang sedang kesurupan. Tapi shalat tidak seperti demikian. Shalat adalah rangkaian perbuatan yang dilakukan secara teratur dengan penuh kesadaran. Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menjumpai Rabb mereka dan sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S. al-Baqarah [2] : 45 – 46) Allah SWT sendiri mengatakan bahwa shalat itu berat (yang artinya memang seharusnya kita merasa bahwa shalat itu adalah suatu ibadah yang cukup kompleks). Pada ayat ke-45 di atas, Allah menegaskan bahwa hanya orang-orang yang khusyu’ sajalah yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dalam shalat. Ayat selanjutnya memberi kita informasi yang kita butuhkan untuk memahami makna khusyu’ yang sebenarnya. Cukup sederhana, ternyata. Mereka yang khusyu’ ditandai oleh sebuah sifat : yakin bahwa dirinya akan menjumpai Allah (dalam shalat) dan suatu hari nanti akan kembali kepada-Nya. Sederhana, tapi bukan perkara yang mudah. Hal ini kemudian membawa kita pada berbagai konsekuensi. Barangkali perlu dibuat berjilid-jilid buku untuk menjabarkan keseluruhan konsekuensi dari khusyu’ tersebut. Yang jelas, mereka yang khusyu’ ditandai oleh sikap khidmatnya yang luar biasa ketika sedang melaksanakan shalat, karena mereka yakin bahwa mereka tengah ‘berjumpa’ dengan Rabb-nya, yaitu Dzat yang memiliki dirinya dan menjadi satu-satunya tempat kembali untuknya kelak. Tentu saja masih banyak sikap lainnya yang akan muncul di luar shalat sebagai konsekuensi dari keyakinan ini, namun itu masalah lain lagi. Sekarang kita telah memiliki sedikit gambaran mengenai sikap khusyu’ dalam shalat. Konkretnya, kita harus meyakini bahwa ketika shalat kita sedang menghadap Allah SWT, bukan yang lain. Dengan demikian, kita harus mengatur setiap ucapan dan gerakan kita. Sebagai perbandingan, anggaplah Anda sedang berbincang-bincang dengan seorang ulama yang paling Anda hormati. Bagaimanakah sikap Anda? Tentu Anda akan mengatur ucapan Anda, khawatir kalau-kalau Anda akan memberikan kesan buruk di hadapannya. Setiap kata yang mengalir dari mulut akan dipilih baik-baik dan diusahakan terucap dengan sejelas mungkin. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lambat. Bagaimana dengan bahasa tubuh Anda? Tentu saja Anda tidak akan bergerak serampangan. Anda tidak akan mengobrol dengannya sekedar basa-basi. Anda tentu akan berbincang-bincang dengan sangat serius dan tidak membuat gerakan yang tidak perlu. Anda tidak akan menggaruk-garuk ketiak di hadapan seseorang yang amat dihormati, bukan? Sekarang refleksikanlah sikap tersebut dengan shalat Anda! Tentu saja Allah SWT jauh lebih mulia daripada ulama mana pun, bahkan Dia-lah Yang Maha Mulia, tidak ada bandingannya dengan apa pun. Jika kita mengatur ucapan dan gerak-gerik kita di hadapan seorang ulama, lebih-lebih lagi di hadapan Allah! Kita berdiri tegak untuk shalat dengan postur yang sempurna layaknya prajurit yang akan melaksanakan upacara bendera. Kita bersiap untuk melakukan sesuatu yang amat formal. Ketika akan bertemu Allah SWT, tentu saja kita dituntut untuk mengatur sikap. Kita menundukkan wajah kita, menatap ke arah sujud karena rasa takut dan khidmat kepada Allah. Kehadiran-Nya bisa dirasakan di seluruh ruangan, bahkan seluruh alam berkhidmat kepada-Nya. Kemudian mulailah kita mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu dilambat-lambatkan. Gunakanlah waktu secukupnya untuk tetap merasakan kehadiran-Nya. Setelah itu, mulailah membaca surah Al-Fatihah dan seterusnya dengan tertib. Tidak boleh ada kata yang salah terucap, huruf yang tidak jelas makhraj-nya, kalimat yang tidak jelas maknanya, bacaan yang kita tidak mengerti maksudnya, dan penuturannya pun harus terlantun dengan indah bagaikan lagu. Kita tengah berhadapan dengan Allah. Setelah selesai membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat tambahan, maka kita mulai melakukan ruku’. Gerakan ini tidak dimulai jika bacaan kita belum selesai. Sebaliknya, bacaan ruku’ pun tidak dilakukan sebelum kita benar-benar sampai pada posisi akhir ruku’ tersebut. Segalanya harus tertib dan formal. Di hadapan kita ada Allah Yang Maha Melihat. Selanjutnya, setiap gerakan dan bacaan harus dilakukan dengan tertib, tidak saling mengejar dan memburu. Selesaikan sebuah gerakan, baru membaca doa. Selesaikan doa, baru melakukan gerakan berikutnya. Tidak boleh ada overlap dalam sebuah ibadah formal. Ini tidak main-main. Demikian seterusnya hingga akhirnya kita mengucapkan salam sebagai tanda selesainya ibadah shalat. Setiap rukun shalat harus ditunaikan sebaik mungkin, serapi mungkin, dan tertib. Barangkali sahabat yang tertusuk anak panah tadi juga merasa sakit ketika anak panah itu dicabut dari tubuhnya ketika shalat. Hanya saja, ia begitu merasa takut di hadapan Allah dan berusaha sedemikian kerasnya untuk bersikap tertib ketika shalat. Ia tidak berani untuk sekedar mengaduh atau meringis kesakitan. Ia tahu persis bahwa shalat adalah ibadah yang bukan main-main. Ini ibadah serius. Sumber 1. Masrukhul Amri. Shalat Khusyu. http://www.cybermq.com/cybermq/detail_kolom.php?id=98&noid=1 (diakses 16/10/06). 2. Khoirul Ummah. Shalat khusyu’ itu mudah dan saaangat nikmat. http://khairulu.blogsome.com/2005/10/26/shalat-khusyu-itu-mudah-dan-saaangat-nikmat/ (diakses 16/10/06). 3. Abu Sangkan. Simulasikan Blocking Mental. http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=3097 (diakses 16/10/06). 4. Shalat, Titik Awal Menuju Kebangkitan. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=174272&kat_id=105&kat_id1=147 (diakses 16/10/06). 5. Sedikit Pemikiran Tentang Khusyu’. http://akmal.multiply.com/journal/item/168 (diakses 16/10/06). 6. Abu Sangkan. Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam. Shalat Center dan Baitul Ihsan.

0

Survey Dapat Uang gratis baru daftar dapat $27


DAFTAR DISINI

survey dapat uang ini sudah berjalan cukup lama sekali. Tapi saya tidak menjalankannya karena saya menyangka situs ini tidak membayar para membernya atau scam. Namun beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya menerima pembayaran dari program ini. sayapun jadi ingin mencoba program survey dapat uang ini. cepat sekali anda mendapatkan uang dari situs ini, hanya dengan melakukan 7 survey saja anda bisa mendapatkan $27 atau sekitar 300 ribu rupiah hanya dalam waktu 1 jam saja. Bagaimana langkah langkah mendaftar di survey dapat uang? Cara pertama adalah anda mendaftar dulu program tersebut >>>>>>> DI SINI Kemudian anda daftar dengan klik “create a free account” ikuti tahap tahap yang harus dilakukan, setelah selesai maka anda harus login ke dalam program dengan user name dan password yang telah anda buat tadi. kemudian setelah login anda bisa mengerjakan survey yang akan anda kerjakan, lihatlah di bagian agak bawah halamannya. Di sana ada survey website jadi anda hanya memasukkan 3 kalimat opini anda tentang situs yang di survey. Saat pertama kali mendaftar akan ada 7 survey yang total surveynya adalah bernilai $27. Selain itu bagi anda yang mendaftar bulan maret akan berpeluang mendapatkan uang sebesar $500, lumayan bukan? tertarik untuk mendapatkan uang melalui survey ini? silahkan bergabung>>>> DI SINI Untuk pembayarannya di lakukan melalui paypal setelah account anda memiliki saldo $75. lumayan bukan? nb: Jika tidak bisa berbahasa inggris anda bisa menggunakan translate tool atau google translate jadi anda buat survey dalam bahasa indonesia kemudian anda translate jadi bahasa inggris.

0

Jack MA Pemilik Ecommerce terbesar di China

Meski perawakannya kecil dan penampilannya kurang menyakinkan tetapi jangan sangka, Jack ma mantan guru bahasa inggris ini adalah pemiliki Alibaba Group yang merupakan perusahaan e-commerce terbesar di negara China. Jack Ma bukanlah seorang yang mahir atau mengerti teknik komputer. bahkan sebelum tahun 1995 belum pernah menyentuh barang bernama komputer. tetapi sekarang dialah pebisnis internet sukses yang mampu bersaing dengan perusahaan e-commerce terbesar dunia ebay.

pada usia 12 tahun Jack Ma sudah tertarik dengan bahasa inggris.selama delapan tahun masa kecilnya dihabiskan dengan bersepeda 40 menit menuju sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou, sekitar 160 km dari Shanghai. China saat itu baru membuka diri dari dunia luar dan banyak turis yang datang. dengan modal keberanian Jack Ma menjadi pemandu gratis agar dapat cas-cis-cus belajar mempraktikkan bahasa inggris-nya. pengalaman itulah yang membuat pemikiran Ma lebih terbuka dan lebih mengglobal dibandingkan teman-teman sebayanya.

Dengan tekad yang bulat Ma belajar bahasa inggris dan mengikuti ujian masuk universitas prosesnya tidak mudah. Ma akhirnya diterima di Universitas Keguruan Hangzhou, semacam IKIP dimasa lalu. Lulus dari Universitas, Ma adalah satu-satunya dari 500 mahasiswa seangkatannya yang ditugaskan mengajar di Universitas dengan gaji sebesar 100-120 renminbi atau setara 114.000-142.500 perbulan. ternyata nasibnya sama juga dengan guru di Indonesia :D . tetapi Ma tetap memiliki impian jika ia selesai bertugas mengabdikan dirinya selama lima tahun, dia akan memulai bisnis hotel atau yang lain.

Pada tahun 1992, Ma banyak sekali melamar di berbagai posisi tetapi tidak ada yang lolos tetapi akhirnya menjadi sekretaris manager gerai penjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken. Ma juga berprofesi menjadi penerjemah sebuah delegasi perdagangan. hingga suatu ketika seorang teman memperlihatkan internet. lalu dia mencari sesuatu tetapi tidak menemukan data tentang china. akhirnya Ma dan temannya membuat situs tentang china.

Pada Maret 1999, Ma dan timnya yang berjumlah 18 orang meluncurkan sebuah situs bernama Alibaba.com di apartemen Ma di Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Dengan situs ini, Ma berangan-angan menciptakan sebuah fasilitas yang memudahkan aktivitas bisnis pengusaha kecil dan menengah. Setelah mengalami berbagai pasang surut, bisnis Ma akhirnya menunjukkan hasil.Seperti tantangan yang dihadapi perusahaan internet business to business (B2B) lain di dunia, kepercayaan konsumen merupakan kuncinya. Dengan cepat mempelajari kesalahan dan cepat melakukan perbaikan, Alibaba.com sedikit demi sedikit dapat bangkit dan tumbuh besar.

Di bawah kepemimpinan Ma, Alibaba kemudian berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada Oktober 2005. Saat itu, Alibaba menjalin kerja sama dengan Yahoo!. Dengan dana sebesar USD1 miliar,Yahoo! membeli 40% kepemilikan Alibaba, sedangkan Ma mengambil alih operasi Yahoo! di China.Dari situ terbentuklah Alibaba Group. Perusahaan ini terdiri atas situs maya e-commerce global, Alibaba.com dan Taobao, search engine (Yahoo! China), pembayaran online (Alipay), dan bisnis perangkat lunak (Alisoft). Bermula dari 19 personel di apartemen milik Ma,sekarang Alibaba Group sudah memiliki lebih dari 5.000 orang pegawai yang melayani jutaan pengguna jasa bisnis di seluruh dunia. Ma sangat bangga dengan jati dirinya sebagai seorang warga negara China dan berkembang besar di China.

Ma 100% tumbuh besar di China. belajar sendiri bahasa Inggris di China, dan tidak pernah belajar di luar China. dia belajar autodidak Bahasa Inggris dan saat ini dia tengah menikmati hasilnya. dengan bahasa Inggris kini Ma tengah mengejar mimpi yang lebih besar untuk menjadi e-commerce terbesar di dunia untuk jangka waktu 5 tahun kedepan.

Support Palestine
 
Free URL Redirection @ .co.nr